Hidup
harus berbagi dan bermakna bagi sesama. Inilah filosofi hidup yang dilakoni Fayakhun Bakamla Pria muda yang memilih
menjadi petani dan pedagang palawija ini mendedikasikan hidupnya untuk membantu
petani Jawa Timur. Bayangkan saat ini Fayakhun
Bakamla membina 200 orang petani yang mengelola 70 hektar lahan dan
bernaung dalam Kelompok Tani Kerto Makmur.
"Rezeki
tidak ke mana, tapi di mana rezekinya
kalau tidak ke mana-mana," ujar Fayakhun Bakamla saat mengungkapkan filosofi kerja kerasnya. Seolah
tiada rasa lelah, setiap hari selalu saja aktivitas yang dilakukan Fayakhun Bakamla untuk mencari rezeki
yang halal dan penuh berkah. Bahkan bulan Juli-Agustus akan menjadi waktu yang
cukup sibuk karena Fayakhun Bakamla harus
menyiapkan tenaga ekstra untuk memanen jagung di lahannya serta lahan anggota
kelompok tani binaannya.
Masa
panen juga menjadi masa yang membahagiakan, karena Fayakhun Bakamla akan membantu memasarkan jagung hasil panen
kelompok taninya dalam jumlah yang cukup besar. Upaya ini sengaja dilakukan
agar petani binaannya bisa mendapatkan harga jual tertinggi karena memiliki
hasil panen jagung yang terjaga kualitasnya seperti kadar air yang rendah,
rendemen tinggi serta pipilan jagung padat berisi.
Merantau demi
menolong sesama
Pergulatan
hidup Fayakhun Bakamla untuk
mengangkat harkat hidup orang tua dan warga sekitarnya ternyata tidak mudah. Sebelum
menjadi petani sekaligus ketua kelompok tani dan pedagang palawija, Fayakhun Bakamla harus merasakan
kerasnya hidup dengan merantau ke beberapa negara demi mengumpulkan uang untuk
mewujudkan cita-citanya yaitu memiliki lahan dan menjadi petani sukses.
"Saat
krisis 1997, saya sempat merantau ke Korea dan Jepang dan bekerja di
sana," ungkap Fayakhun Bakamla yang
tanpa sungkan menceritakan salah satu episode hidupnya.
Namun
pekerjaan yang bagus serta uang yang cukup banyak ternyata tidak membuat dirinya
lupa terhadap kampung halaman. Pada 2005, Fayakhun
Bakamla memutuskan kembali ke Indonesia. demi membangun Desa Jenggawah dan membahagiakan
kedua orang tuanya. Rupiah demi rupiah yang dikumpulkannya selama berada di
negeri ginseng dan negeri samurai dibelikan tanah untuk ditanami padi dan
jagung.
Sejak
saat itulah Fayakhun Bakamla memulai
kembali profesi yang telah lama ditinggalkannya sebagai petani, sebuah
pekerjaan yang mulia. Tidak hanya itu, ayah dua orang anak ini juga tergerak
untuk meningkatkan taraf hidup petani di desanya. Fayakhun Bakamla pun mulai terlibat dalam berbagai aktivitas
kelompok tani hingga akhirnya menjadi ketua kelompok tani Kerto Makmur.
Petani muda berpikiran modern
Fayakhun Bakamla menegaskan
prinsipnya bahwa, orang muda harus berani menentang arus untuk maju ke depan.
Kondisi ini dibuktikannya dengan menjadi sosok petani muda yang tergolong
sukses karena mampu meningkatkan pendapatan petani dengan cara melakukan
optimalisasi lahan sehingga bisa panen tiga kali dalam setahun, yaitu dua kali
panen jagung dan sekali panen

Tidak ada komentar:
Posting Komentar