Senin, 15 Mei 2017

Kisah Fayakhun Bakamla Sukses Bertani Jagung

Hidup harus berbagi dan bermakna bagi sesama. Inilah filosofi hidup yang dilakoni Fayakhun Bakamla Pria muda yang memilih menjadi petani dan pedagang palawija ini mendedikasikan hidupnya untuk membantu petani Jawa Timur. Bayangkan saat ini Fayakhun Bakamla membina 200 orang petani yang mengelola 70 hektar lahan dan bernaung dalam Kelompok Tani Kerto Makmur.

"Rezeki tidak ke mana, tapi di mana rezekinya  kalau tidak ke mana-mana," ujar Fayakhun Bakamla saat mengungkapkan filosofi kerja kerasnya. Seolah tiada rasa lelah, setiap hari selalu saja aktivitas yang dilakukan Fayakhun Bakamla untuk mencari rezeki yang halal dan penuh berkah. Bahkan bulan Juli-Agustus akan menjadi waktu yang cukup sibuk karena Fayakhun Bakamla harus menyiapkan tenaga ekstra untuk memanen jagung di lahannya serta lahan anggota kelompok tani binaannya.
Masa panen juga menjadi masa yang membahagiakan, karena Fayakhun Bakamla akan membantu memasarkan jagung hasil panen kelompok taninya dalam jumlah yang cukup besar. Upaya ini sengaja dilakukan agar petani binaannya bisa mendapatkan harga jual tertinggi karena memiliki hasil panen jagung yang terjaga kualitasnya seperti kadar air yang rendah, rendemen tinggi serta pipilan jagung padat berisi.
Merantau demi menolong sesama
Pergulatan hidup Fayakhun Bakamla untuk mengangkat harkat hidup orang tua dan warga sekitarnya ternyata tidak mudah. Sebelum menjadi petani sekaligus ketua kelompok tani dan pedagang palawija, Fayakhun Bakamla harus merasakan kerasnya hidup dengan merantau ke beberapa negara demi mengumpulkan uang untuk mewujudkan cita-citanya yaitu memiliki lahan dan menjadi petani sukses.

"Saat krisis 1997, saya sempat merantau ke Korea dan Jepang dan bekerja di sana," ungkap Fayakhun Bakamla yang tanpa sungkan menceritakan salah satu episode hidupnya.

Namun pekerjaan yang bagus serta uang yang cukup banyak ternyata tidak membuat dirinya lupa terhadap kampung halaman. Pada 2005, Fayakhun Bakamla memutuskan kembali ke Indonesia. demi  membangun Desa Jenggawah dan membahagiakan kedua orang tuanya. Rupiah demi rupiah yang dikumpulkannya selama berada di negeri ginseng dan negeri samurai dibelikan tanah untuk ditanami padi dan jagung.

Sejak saat itulah Fayakhun Bakamla memulai kembali profesi yang telah lama ditinggalkannya sebagai petani, sebuah pekerjaan yang mulia. Tidak hanya itu, ayah dua orang anak ini juga tergerak untuk meningkatkan taraf hidup petani di desanya. Fayakhun Bakamla pun mulai terlibat dalam berbagai aktivitas kelompok tani hingga akhirnya menjadi ketua kelompok tani Kerto Makmur.

Petani muda berpikiran modern


Fayakhun Bakamla menegaskan prinsipnya bahwa, orang muda harus berani menentang arus untuk maju ke depan. Kondisi ini dibuktikannya dengan menjadi sosok petani muda yang tergolong sukses karena mampu meningkatkan pendapatan petani dengan cara melakukan optimalisasi lahan sehingga bisa panen tiga kali dalam setahun, yaitu dua kali panen jagung dan sekali panen


Tidak ada komentar:

Posting Komentar